Skip to main content

Setelah ini, Apa lagi?

Setelah wisuda rasanya ada yang hilang dari perjumpaan ini. Tak ada pertemuan di dalam kelas, tak ada diskusi ataupun presentase. Kabar hanyalah milik msg2 pribadi. Semuanya sudah pergi.

Mungkin hanya beberapa kata yang menyangkut di dahi dari perjumpaan itu.
Ataupun kesan dari tingkah laku yang telah terjadi.

Setelah ini, ada kehidupan lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Fase - fase yang terlewati biarlah menjadi bekal untuk memperbaiki diri agar lebih mawas diri.

Setelah ini, kemana lagi? Sepertinya kita menyadari, bertanggung jawab atas diri sendiri. Ada yang dicari.

Setelah  ini,, akan sepi..

Comments

Popular posts from this blog

Ma

Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...

Just enough, Remember My Name

Hafalkan namaku disaat menatap muka.  Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata, memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!

Senja

Kenapa selalu senja? Mengapa senja menjadi memoar yang tak pernah hilang dari lanjuan kata? Senja tak pernah terhapuskan. Kata yang membuka benak untuk membayangkan  pertemuan antara siang dan malam. Waktu yang tak panjang. Senja menjadi episode yang selanjutnya akan tertuliskan.Senja menjadi irama pengiring kata yang tak habis-habisnya, menyebar kemana - mana. Senja hampir sama dengan Cinta. Ada dimana saja, mudah ditemukan. Hello senja dan cinta kita sering berjumpa pada bacaan yang tersaji dari pencipta.