Posts

Di Kota Malang, aku banyak menemukan hal baru. Aku harap ini bukanlah tempat pelarian hati yang dibiarkan. Bukan juga tempat membuang segala angan dan kenangan. Sebab hati pernah erat menujumu, hanya karena entah yang dibiarkan menganga, dan dingin yang dibiarkan mengalir, apakah memang hanya sebatas ingin? Selama aku disini kita tak pernah bertegur sapa. Apakah kah kau memang tak pernah ingin dianggap ada? Kita yang pernah berbagi rasa, kini hanya sebuah kata-kata, yang membingkai bahagia lewat raut wajah.

Mengenangmu, Bu

Waktu semakin asing untuk diketahui Dan kau semakin jauh dalam sapa Ibu, berita tentang kepergianmu adalah hal yang tak pernah sedetik pun terlintas dibenakku. Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagiku ketika waktu menyatakan suaranya. Meski sakit yang telah lama menyertaimu, hal itu tak menyadarkanku bahwa akan menjadi seperti ini. Satu hal yang selalu terfikirkan olehku dan juga mungkin orang-orang terdekatmu adalah engkau sembuh dan bisa jalan lagi seperti dulu, bu. Ibu, ada banyak hal yang engkau beri dan ada banyak hal yang belum kupenuhi. Atas harapan-harapan yang masih dalam pemikiran. Motivasi yang kau hantarkan insya Allah kan selalu ku ingat.  Engkau adalah sosok wanita yang sangat baik, ceria, dan penuh kasih. Walau aku adalah anak asing yang sebatas singgah dalam hidupmu, namun kasihmu tak kenal pandang. Ingatkah bu, saat aku di Medan, jarak yang jauh itu membuat kita sangat dekat dalam berbagi kegiatan sehari-hari. Saat ini kau semakin jauh, sangat jauh. Jauh dalam

Ketika Aku Termangu

Ketika aku termangu dari bola-bola matamu yang ricuh hening  menjadi ramai mengisi kepalaku dan kau datang bekali-kali tanpa peduli waktu, Bimbang dan setuju berkumandang didalam diriku. kenapa kata-kata menjadi sosok misteri yang menjelma anggun untuk disinggahi sementara waktu semakin lusuh semakin mencari-cari untuk disudahi karena harap tak sampai dalam kandung perilaku kata dan raga bergegas mencari batas

Bukan Aktor Utama

Kita adalah ruang ramah tamah yang sedang membentuk rupa. Bagaimana mungkin kau yang entah dimana kini mengundang tawa sedang aku menepis luka. Kebahagiaan memiliki rumahnya masing-masing. Sekalipun kau tanam benih yang tenggelam dari asing ia akan mencari rumahnya sendiri. Aku sadar, sebuah  ramah bukanlah rumah bagi asa yang terbata-bata. Menyulam kisah tidak mudah membentuk kasih. Aku masih mengeja tentang ruang dan tata letak hati. Ia memiliki rumusnya sendiri.  Malam kemarin, sunyi menjadi dingin, hanya ada aroma basah di kaca jendela. Hening menepuk-nepuk dada seakan bersuara, kau kah aktor utama dari skenario-Nya? Namun malam semakin lewat, dingin menjelma kering, basah berganti musim, kau telah mempersunting, dan kaca jendela tak lagi sama. Kau bukanlah aktor utama.

Waktu, Semoga ia setuju

Aku memikirkan mu dalam angan dan barisan kata. Seperti kemilau yang memantulkan cahaya, namun enggan bersuara. Seperti malam yang datang berjuang. Bening dimatamu tak dapat dihindari.  Seperti udara yang ingin memeluk kalbu namun tak mampu menyentuhnya. Kau dekap dengan arloji hingga waktu tak butuh menunggu. Semua rasa yang pernah hadir, silih berganti seperti musim di bulan Desember. Aku ngin menunggumu dengan waktu. Semoga ia setuju. Agustus 2018

Kupandangi Kau

Kupandangi Kau, Senja yang tinggal sisa, sebentar lagi mejelma Kupandangi Kau, Senja yang membawa serabutan kenangan sebentar lagi di lahap malam

Kepada kau dan kenangan kita

Kepada kenangan yang hingar bingar disekitar kita, mengadu tawa, dan sejenak menghirupnya lagi. Kepada rasa yang menjadi asa, sejenak aku ingin menggapainya. kepada pesona pagi yang selalu melekat di hari-hari, aku ingin menyapanya. kepada kata-kata yang tertata melalui jari-jari, segera aku ingin mengungkapkannya. Kepada pertemuan, yang sejenak dilahap waktu, kembali aku ingin mengulangnya. Kepada raga yang melekat di kepala, aku ingin melihatnya. Kepada kau dan aku serta hubungan kita dengan semesta, semoga sampai pada titik temu.  Baik di awal dan di akhir, dalam perjumpaan ita yang diarapkan sesegera mungin terlaksana.