Aku sedang merindu pagi kemarin.
Yang berteman kasih dan imajinasi. Lajunya waktu akan membawamu pergi. Sedang
aku masih merindu sendiri. Pagiku kini tak disebelah jendela sudut ruang kelas yang memiliki tatapan wajah-wajah kita. Penuh
harapan, penuh keinginan dan cita-cita. Kini, malam sedang menemaniku mencuri
rindu dari kenangan dulu, saat bersamamu. Sepinya malam sedang menghantui
jalanan ini. Kemana akan pergi. Merindumu,,, mengingatkan kembali menjadi bagian
dalam hidupmu, penyemangat jiwa ku.
Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...






Comments
Post a Comment