Hafalkan namaku disaat menatap muka. Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku
bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana
pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta
bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam
kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata,
memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa
kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan
ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku
akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!
Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...
Comments
Post a Comment