Skip to main content

RISMA, Latihan Menyambut Porseni


Malam ini indah sekali. Aku merasakan bahagia bila kawan-kawam Remaja Masjid kumpul lagi di rumah. Mereka akan mengadakan Porseni. Sekarang giliran kami yang melatih mereka. Tampak suasana latihan begitu rame. Masing-masing remaja latihan sesuai jenis perlombaannya. Aku memberi saran dan kritik mengenai puisi yang dibawakan oleh  Yuyun. Dia mengikuti lomba itu, dan pertama tampil dihadapan kami. Setelah itu dilanjutkan dengan Aldi dan Novi.

Yah, ini merupakan awal mereka dalam latihan mental. Kalau kata kakak menteku sih perempuan itu gak boleh tampil dihadapan para lelaki. Dan setelah aku bertanya lebih dalam ia diperbolehkan karena masih belum paham. Aku tidak tahu harus percaya pada siapa, namun kami semua mengajari mereka. Ku biarkan saja ia seperti Helvi Tiana Rossa.

Aku dan beberapa teman seangkatan telah usai mengikuti segala kegiatan di RISMA karena kuliah dan kerja. Hanya beberapa waktu saja ketika liburan kami kembali ke RISMA. Bagaimanapun juga RISMA merupakan bagian dari kami. Seperti aku yang besar di RISMA. Eh, salah maksudnya membangun mental di RISMA. RISMA itu merupakan wadah yang sangat bermanfaat untukku. Bersosialisasi, mendengar dan mengucapkan kata-kata. Hal ini ku pelajari mulai dari aku mengikuti RISMA. Tidak jauh beda gambarannya saat aku mengikuti organisasi di kampusku.

25 Des 2013

Comments

Popular posts from this blog

Membuat Naskah History 811 Metro TV

Betapa pentingnya hari, tanggal dan tahun. Hari ini aku diberi tugas membuat history. Jadi aku berada di ruang internet untuk mencatat segala hal yang terjadi pada hari ini lalu merangkumnya kedalam satu paragraf yang terdiri dari 4 baris. Aku mulai berpikir betapa pentingnya hari. Aku sangat menyukai tugasku yang satu ini. Dengan begini aku menjadi tahu peristiwa apa saja yang terjadi.

Ma

Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...

Just enough, Remember My Name

Hafalkan namaku disaat menatap muka.  Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata, memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!