Skip to main content

Salam Rindu Untukmu


Petang ini baru saja aku ingin tertidur pulas. Namun, secarcik rindu yang mengepal disudut malam, tiba-tiba aku ingin mendengar suaramu. Kau pun mengrim alunan suara yang menjadi melodi ditelingaku lewat telepon genggam itu. Aku tahu, telah usang perkataan beberapa waktu lalu. Saat ku ucap salam kepergianku. Kini dengan waktu yang terus melaju, kita tak lagi bertemu. Ntah kapan waktu mampu mengubah mata yang tak mampu memandang dari jarak jauh.

Kau menangis. Aku mendengarkannya. Masih ku genggam benda berharga yang menempel ditelingaku. Kusaksikan perseteruan yang terjadi antara kau dengan beberapa orang itu. Begitu hebatnya hingga menghasilkan rinitk yang mengembun dibawah mataku. Aku ingin bersatu bersama kisahmu di luar sana. Menyaksikan lembaran-lembaran hari yang kau lalui.  Untuk suatu tujuan mengharap ridho Illahi. Namun, aku tak mampu karena waktu enggan setuju. Biarlah aku menunggu hasil usahamu.


Tak pernah ku tahu sebelumnya kau sebijak ini. Akhirnya aku tahu ada sesuatu yang sangat berharga untukku. Kau telah dewasa sayang. Aku salut akan usahamu. Bangga dengan kerja kerasmu. Tetaplah begitu. Teruslah maju Adindaku. Sambutlah amanah ini dengan senang hati. Kakak disini mendo’akanmuJ

Comments

Popular posts from this blog

Ma

Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...

Just enough, Remember My Name

Hafalkan namaku disaat menatap muka.  Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata, memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!

Senja

Kenapa selalu senja? Mengapa senja menjadi memoar yang tak pernah hilang dari lanjuan kata? Senja tak pernah terhapuskan. Kata yang membuka benak untuk membayangkan  pertemuan antara siang dan malam. Waktu yang tak panjang. Senja menjadi episode yang selanjutnya akan tertuliskan.Senja menjadi irama pengiring kata yang tak habis-habisnya, menyebar kemana - mana. Senja hampir sama dengan Cinta. Ada dimana saja, mudah ditemukan. Hello senja dan cinta kita sering berjumpa pada bacaan yang tersaji dari pencipta.