Skip to main content

Pengen ke Pesantren

Jika beberapa orang memiliki keinginan masuk pesantren, dan setelah tamat sekolah mewujudkannya. Itu bukan aku. Jika ada beberapa orang yang tidak menginginkan masuk pesantren namun tetap masuk, itu juga bukan aku. Tetapi, jika ada beberapa orang yang menginginkan masuk pesantren, namun belum terwujud, aku adalah bagiannya.

Yah, keinginanku masuk pesantren dimulai sejak tamat kuliah. Sedari kecil aku hanya sekolah di sekolah negeri yang berbaur dengan orang-orang non islam, yaitu nasrani. Kecuali TK, hanya di TK-lah satu-satunya sekolah ku yang bernuansa islami, yaitu TK Iqro' Al Hidayah.

Sejak masuk kuliah, aku memang masih awam soal agama. Tapi aku sudah berhijab. Aku hanya melaksanakan perintah-Nya seperti sholat, mengaji, dan kadang-kadang puasa. Tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dan terasa lengket didiri ini.

Bahkan, aku tidak memilih-miih dalam berteman. Teman dekatku semasa kuliah adalah dua orang nasrani. Kita makan bareng, pergi kuliah bareng, mengerjakan tugas bareng, seharian di kampus bareng, istirahat di kosan ataupun di rumah bareng2. Bagiku sama saja, Walau memang terkadang terbesit dihati dan pikiranku, kita tidak bisa beribadah, sholat bareng-bareng.

Begitulah padaa saat itu. Namun, disisi ain aku juga mngikuti orgaisasi islam, yaitu di semester awal ikut HMI, kemudian aku memutuskan masuk UKMI. Disinilah pengetahuan agamaku muai bertambah. Aku mengikuti mentoirng, keputrian, mengadakan kajian-kajian, dsb. Namun persahabatanku dengan teman2 nasraniku tetap berjalan. Aku juga kokoh mempertahankan hijabku.

Pada saat semester lima, kami mulai terpecah. Aku mengambil konsentrasi Jurnalistik. Sementara dua teman nasraniku mengambil konsentrasi Public Relation. Hubungan kami benar-benar renggang berselang dengan waktu yang terus melaju. Pada saat ini, aku sudah mengekos dengan teman yang juga satu jurusan, yaitu Ummul. Kami di semester tiga sudah mulai kos bareng. Namun ummul juga sudah memiliki kelompok teman. Dia kelas A, sedangkan aku kelas B. Selama semester 1-4, kami bertemu hanya pada beberapa mata kuliah saja.

Gak sengaja tadi aku menonton Film Cahaya Cinta Pesantren (CCP) yang berlatar di Pesantren Raudhatul Hasanah, Medan. Setelah menonton film ini keinginanku semakin mantap untuk masuk pesantren.

Aku memang memiliki target sebelum menikah, yaitu masuk Pesantren! Aku pengen merasakan dunia mondok, dunia santri. Setidaknya aku memiliki pengalaman dan pembelajaran untuk ku kelak, untuk anak-cucuku. Selagi aku muda, dan belum menikah, tidak ada salahnya mencari bekal menuntut ilmu di pesantren lebih dulu.

Terbesit diingatanku mengenai quote dari ig-nya Wirda Mansyur, yang bilang gini: Dunia ini milik Allah. Jadi, minta sama Allah. Semoga Allah meridhoi keinginan mondok ku.

Memang rasanya beda sekali, dunia kuliah, dunia kerja. Setelah kuliah, kita hidup masing-masing. Teman lama bisa hilang, teman baru bemunculan. Yang tadinya belajar, sekarang bekejaran. Apapun itu jadikanlah pekerjaan kita sebagai tempat menuntut ilmu, tempat belajar, dan mencari berkah.

Namun, posisi kerja ku disini adalah sendirian. Teman-temanku jauh dari penglihatan.

Untuk masuk pesantren tidak semudah yang dipikirkan. Tentunya harus ada tujuan dan persiapan, bukan? Apalagi kalau ditanya hafalan, hafalanku masih lompat-lompat. Tentunya aku butuh waktu untuk belajar dan tabungan untuk kebutuhan disana.

Bismillah.
Ayo Mondok!


Comments

Popular posts from this blog

TEORI Difusi Inovasi

Teori difusi inovasi berkaitan dengan komunikasi massa, disebarkan secara luas ke masyarakat.  Teori digunakan untuk melaksanakan program-program pembangunan yaitu dengan mengganti cara-cara yang lama dengan teknik-teknik yang baru. Sasarannya pun masyarakat pedesaan umumnya sih petani. Prinsip teori ini ialah komunikasi dua tahap, dimana didalamnya terdapat agen perubahan. Oleh karena itu teori ini sangat menekankan sumber-sumber non-media (sumber personal, misalnya tetangga, teman. ahli dan sebagainya) dan juga gagasan atau pendapat yang mempengruhi dan mengubh prilaku kita. Biar apa cobaaaa? Nah.. dibawah ini akan kita bahas lagi yaa..tahap-tahapnya dulu deh. menurut pahlawan komunikasi kita yaitu Everett A Rogers dan Floyd G. Shoemaker (1973) ada 4 tahapan dalam proses difusi inovasi.. Apa sajakah tahap ituu..? Yuuk mari mampir, lihatnya dibawah ini yaa.. :) 4 tahap difusi inovasi: 1. Pengetahuan: Bahwa kita sadar akan adanya teori difusi inovasi ini, apa dan bagaimana serta f...

Membuat Naskah History 811 Metro TV

Betapa pentingnya hari, tanggal dan tahun. Hari ini aku diberi tugas membuat history. Jadi aku berada di ruang internet untuk mencatat segala hal yang terjadi pada hari ini lalu merangkumnya kedalam satu paragraf yang terdiri dari 4 baris. Aku mulai berpikir betapa pentingnya hari. Aku sangat menyukai tugasku yang satu ini. Dengan begini aku menjadi tahu peristiwa apa saja yang terjadi.

Sabar

Aku ingin meniti air yang beku. Sabar menanti ia mencair. Aku ingin masuk kedalam dahagamu. Memberi setetes saja kesejukan. Dalam keadaan baik ataupun lelah. Aku hanya ingin menjadi penyejuk yang merindang dirimu. Keadaan sabar sama seperti kita menunggu Jemariku belum   lelah, menantimu. Aku masih mengukir sabar dijendela kaca tempat kita bejumpa. Sabar yang tertuang dalam hati, dalam pikiran dan dalam raga yang senantiasa merelakannya bersinggungan dengan besi putih, tempat   menyandar. Kakiku tetap tegak, tak berpindah. Tanganku masih menari-nari melukis namamu dari arah kanan dan kiri. Aku bukan main-man, aku hanya sabar menunggu kedatanganmu.