Skip to main content

Bahasa dan Budaya


Bahasa kerap kali dijadikan suatu analisis yang bertuan.Etika yang sebenarnya adalah memiliki basis tersendiri seperti pengunaan EYD untuk Bahasa Indonesia dan Grammar untuk Bahasa Inggris. 
Namun tutur orang dalam berbicara merupakan suatu interpretasi yang secara langsung digunakan. Sejak kecil bahasa tutur ini telah menyatu dengan jiwa dan raga. Bagamana pun juga orang berinteraksi menggunakan Bahasa. Sebut saja Verbal dan Non Verbal.

Kalangan luas maupun pedalaman menggunakan bahasa sesuai daerahnya masing-masing. Apalagi di Indonesia yang terdiri dari 1128 suku. Tentunya telah menjadi perbedaan baik cara pandang maupun tingkah laku. Bahasa Indonesia yang disebut sebagai bahasa persatuan itu hanya menjadi sebuah pelajaran wajib di sekolahan. Ketertimpangan bahasa merupakan suatu dialek yang perlu dikaji ulang.

Ketentuan ini dapat menjadi sebuah kewajiban dalam melakukan tindakan yang menjadi ciri khas tersendiri. Jangan sampailah kalo bangsa sendiri tidak tahu menggunakan bahasa persatuan. Ini yang harus dikaji ulang atas perbedaan itu. Jangan sampai menjadi orang asing di negeri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Ma

Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...

Just enough, Remember My Name

Hafalkan namaku disaat menatap muka.  Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata, memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!

Senja

Kenapa selalu senja? Mengapa senja menjadi memoar yang tak pernah hilang dari lanjuan kata? Senja tak pernah terhapuskan. Kata yang membuka benak untuk membayangkan  pertemuan antara siang dan malam. Waktu yang tak panjang. Senja menjadi episode yang selanjutnya akan tertuliskan.Senja menjadi irama pengiring kata yang tak habis-habisnya, menyebar kemana - mana. Senja hampir sama dengan Cinta. Ada dimana saja, mudah ditemukan. Hello senja dan cinta kita sering berjumpa pada bacaan yang tersaji dari pencipta.