Skip to main content

Perasaan dan Pikiran


Kau tahu seperti apa rasa keju?
Kau tahu seperti apa rasa berteman?
Dan kau pasti tahu rasa hati, rasa yang benar-benar merasakan?
Yaaa itu semua adalah rasa. Rasa yang bertaut menjadi satu kesatuan dalam ruang lingkup dan pengalaman hidup.

Selama ini kita tertaut oleh rasa dan pikiran. Perlakuan dan tingkah laku kita menggunakan rasa dan pikiran.Apabila rasa dan pikiran berbanding lurus maka jalan yang kita lalui akan meraih hasil. Misalnya saja orang yang memiliki rasa suka pada hobinya dan pikirannya mendukung apa yang diinginkan. Insya allah apa yang ia lakukan itu akan berhasil. Jika orang yang melakukan sesuatu berbanding terbalik dengan pikiran maka yang terjadi adalah gagal.

Ini juga seperti Hati yang tertaut pada seseorang. Jika kamu memiliki rasa suka serta pikiranmu mendukungnya untuk itu maka lanjutkanlah. Insya allah ia adalah orang yang tepat untukmu. Namun jika kamu ragu, tanpa membuang waktu segera tinggalkanlah. Jangan mengombang-ambingkan sesuatu yang yang tidak berbanding lurus, karena hal ini takkan sejalan, takkan sehati, maka yang terjadi adalah keterbungkaman.

Comments

Popular posts from this blog

Membuat Naskah History 811 Metro TV

Betapa pentingnya hari, tanggal dan tahun. Hari ini aku diberi tugas membuat history. Jadi aku berada di ruang internet untuk mencatat segala hal yang terjadi pada hari ini lalu merangkumnya kedalam satu paragraf yang terdiri dari 4 baris. Aku mulai berpikir betapa pentingnya hari. Aku sangat menyukai tugasku yang satu ini. Dengan begini aku menjadi tahu peristiwa apa saja yang terjadi.

Ma

Ma... Aku menuis ini karena mengingatmu. Ma, begitulah aku memanggilmu. Segala rasa kucurahkan padamu. Namun aku masih menyimpan yang satu ini ma, cinta.. Semenjak kuliah aku tak lagi bercerita tentang ini padamu. Aku tahu dalam hatimu bertanya-tanya. Mama tahu, anakmu ini sedang mengukir rasa cintanya. Namun tenanglah, cintaku pada mama akan tetap sama. Ma, aku tahu ma, engkau merindukanku. Mama menanti kepulanganku saat ini. Setelah seminggu yang lalu kita bertemu. Ku munculkan diriku dihadapanmu, ku cumbu kedua pipimu. Dan esoknya anakmu ini harus balik lagi kesini, tempat persinggahannya menuntut ilmu. “Kok lama kali pulangnya”? Tanyamu lewat telpon genggam itu. Sabar ya ma.. Aku juga merindukanmu. Ma..maafkan, anakmu ini belum bisa berbuat lebih untukmu. Aku memang sangat-sangat menikmati adanya dirimu. Mama selalu memanjakan diriku. Mengutamakan diriku. Untuk itulah aku mengutamakan dirimu, ma. Mama jangan khawatir jika aku berbuat sesuatu yang lebih dari mama...

Just enough, Remember My Name

Hafalkan namaku disaat menatap muka.  Aku kan mengingat langkah kaki yang selalu ku bawa. Dari jarak jauh ataupun dekat. Aku akan menghiasi senyum dari arah mana pun yang kau mau. Ingatlah pesan-pesan yang mengudara disekitar kita. Serta bahasa tubuh yang sudah tersedia. Hasrat dan keinginan yang tersimpan di dalam kalbu atau pun igauanmu. Dan rintik-rintik yang hampir keluar dari binar mata, memerah. Membuatku mengerutkan dahi, meregangkan alis mata walau tawa-tawa kecil memalingkan suasana. Biarkan saja berjalan apa adanya. Mengalir, meresap hingga ke celah-celah nurani. Bertahanlah sampai kapan ingatan ini akan jenuh. Yang pasti suatu saat nanti aku akan mengingatmu dengan ucapan “ Hallo”, Mekar..Remember my name!